LITTLE NADHIL

Altair Nadhil Fathurrahman, bocah berusia 2 tahun 8 bulan ini sukses membuat rumah saya ramai bak pasar malam (lebay). Tingginya tidak lebih dari 120 m tapi berhasil membuat ruang tamu rumah saya tidak pernah rapi. Kepalanya besar, pertanda otaknya bekerja dengan sangat baik untuk ukuran anak seusianya. Peranginya persis Crayon Sinchan. Nggak bias diam bakhan 1 menit pun, cerewet sekali (like son like mother lah). Saya sampai nggak habis pikir, anak ini kemampuan bahasanya luar biasa. Kadang kalau lagi di kostan saya iseng memutar rekaman suara bocah ajaib yang sempat saya rekam saat perjalanan ke Pull Primajasa di Cililitan. Pernah suatu kali nadhil melihat logo Primajasa pada sebuah Taksi, dan dia spontan mengakatan “Aciiii..liaat ada taksi Primajasa”,saya hanya melongo. Koq dya tau yaa,,Cuma dari logo primajasa aja padahal. Mungkin generasi sekarang sangat cerdas seperti ini yaa…. Di rumah nadhil sudah mahir memasang kaset dvd dan memasangkan kabel berwarna merah,kuning,putih ke Tv, bahkan Si nenek (mama) saya saja suka tertukar dan suka bingung untuk memasang DVD player. Wah canggihnya. Kalau nadhil mau nonton kartun kesayangannya di laptop, dya juga bias langsung menyalakan laptop dari tombol powernya. Saya rasa suatu saat nanti, nadhil bias tumbuh jadi anak yang cerdas. Diumur yang saat ini saja, saya telah melihat Nadhil punya potensi Olahraga (hobinya bermain bola), music (Nadhil biasa mukul drum plastic sampai kaleng kerupuk milik Neneknya dan gitar kecil yang terbuat dari kayu), di umurnya kalau nggak salah 2 tahun kurang, saya sering mengajak dia menggambar apel, dan suatu hari saya takjub karena dia berhasil membuat gambar apel walapun bentuknya tidak benar-benar mirip apel. Nadhil dan sepeda biru kesayangannya benar-benar tidak dapat dipisahkan sampai-sampai Sanga Mami sering membawa sepeda biru saat mengajak Nadhil pergi karena dia tiba-tioba mogok. Siaran TV jadi monopoli Nadhil dari jam 07.00-20.00 WIB, jadi saya kalau lagi pulang ke rumah otomatis erputus dengan berita luar karena seharian kerjaan saya Cuma nonton PlayHouse Disney. Ternyata filmnya lumayan juga. Favorit saya adalah film kartun Handy Many seorang reparasi konstruksi dan perkakas. Anak kecil itu polos sekali. Saya selalu kangen Nadhil kalau lagi di Jatinangor, walaupun kadang suka lelah dana cape menuruti segala kemauannya untuk bermain yang tidak pernah habis. Saya kadang bingung, stok energinya banyak juga ya. Nadhil tetaplah salah satu ponakan kesayangan saya, selain Genta, Nalen, dan Chifa. Dia hanya mengerti tertawa dan menangis. Ibaratnya mereka hanya kertas putih, dan orang dewasalah yang bertanggung jawab atas setiap coretan di kertas tersebut, apakah carut marut atau dibuat indah seperti lukisan.

Saat tulisan ini saya buat, si Nadhil sedang menikmati Cup keempat pudding coklat yang saya buat. Huaaah ruang tamu saya penuh dengan semut-semut berbariiiis…Nadhiiiillll

Komentar